SABAR, TAHAN UJI & TIDAK TERGESA – GESA September 25, 2008
Posted by egiabdurrahman in d&t.trackback
Sikap ini dilakukan dengan cara kita mempersiapkan diri sejak dini bahwa jalan ini (dakwah) sangatlah panjang, beban muatannya sangatlah besar, aral merintangnya sangatlah banyak. Musuh – musuh Allah selalu menunggu giliran. Mereka sangat teliti mengintai kita disetiap kesempatan, dengan tujuan mempengaruhi dan menjadikan tergesa – gesa, agar dapat mencapai akar pokoknya atau menjadikannya tertunda. Kita mempersiapkan diri kita untuk itu semuanya, kita menghadapinya dengan sabar dan tahan uji dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan, tidak tergesa – gesa. Kita memiliki tarbiyah Al-Qur’an untuk kaum muslimin sejak pertama kali, dan didalam sunnah Nabi kita Muhammad SAW, sang teladan dan panutan, sungguh beberapa ayat telah turun :
“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang – orang yang mempunyai keteguhan hati (ulul azmi) dari kalangan para Rasul, dan janganlah kamu meminta disegerakan (siksa) bagi mereka. Pada hati ketika mereka melihat siksa yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah – olah tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (QS. Al-Ahqaf : 35)
“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali -kali janganlah orang – orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat – ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Rum : 60)
“Jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan bahaya kepada kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa saja yang mereka kerjakan.” (QS. Ali – Imran : 120)
Pengarahan dari Nabi SAW berupa sabar, tahan uji dan tidak terpengaruh oleh segala pengaruh bagaimanapun juga keadaannya, dan bagaimanapun juga macam ragamnya, disertai dengan kehati – hatian dan pertimbangan , tidak tergesa – gesa. Semua ini akan mendidikkanpada diri mereka ketaatan, merendah diri, dan kepatuhan.
Ustadz Abu Al-Hasan An-Nadwi, berkata ;
“Beginilah, sang Rasul SAW memberi makan ruhani mereka dengan Al-Quran, mendidik jiwa mereka dengan iman, menyuruh mereka bersabar menghadapi gangguan, melonggarkan dengan baik, dan menundukkan nafsu diri. Sungguh mereka telah mampu menundukkan kecintaan terhadap perang, padahal seolah – olah mereka itu lahir bersama pedang. Mereka berasal dari satu masyarakat yang hari – harinya berisi perang yang luluh lantak, bengkak dan berdebu. Perang Fujjar belum lama berlalu, akan tetapi Rasulullah SAW menundukkan perangai perang mereka dan mengekang arogansi ke-Arab-an mereka. Beliau bersabda, “Tahanlah tangan kalina! Tegakkanlah shalat, tunaikanlah Zakat!”. Mereka pun tunduk pada perintah beliau, menahan tangan mereka. Tahan terhadap gangguan kafir Quraisy bukan karena sikap pengecut, dan bukan karena lemah tak berdaya. Sejarah tak pernah mencatat satupun peristiwa seorang muslim membela dirinya dengan menghunuskan pedang di Mekah, padahal alasan dan dorongan untuk melakukannya sangatlah banyak dan kuat. Itulah puncak ketaatan dan ketundukan diri yang pernah dicatat oleh sejarah.
Barangkali gambaran paling jelas yang digambarkan oleh Nabi SAW dalam hal ini adalah berita tentang keadaan Khabbab bin Al-‘Arat, kala Dia berkata, “Aku mendatangi Nabi SAW saat beliau berbantalkan kain burdah, berada di naungan Ka’bah, sungguh orang – orang musyrik telah menimpakan berbagai macam siksaan yang terhadap kami. Aku berkata, “Tidakkah Engkau berdoa untuk kami?”, lalu beliau duduk dalam keadaan memerah wajahnya, seraya bersabda, “Sesungguhnya orang – orang sebelum kalian disisir dengan sisir besi sampai mencapai daging di bawah tulangnya, atau bentuk kepayahan lainnya. Tetapi itu tidak memalingkannya dari agamanya. Ada lagi yang diletakkan gergaji di atas kepalanya lalu dia dibelah menjadi dua bagian, namun siksaan itu tidak bisa juga memalingkan mereka dari agamanya. Sungguh urusan ini akan mencapai ksempurnaan, sehingga seseorang pengendara kuda dapat bepergian dari Shan’a sampai Hadramaut dalam keadaan tidak takut terhadap apaun kecuali kepada Allah, dan kepada srigala atas dombanya.” (HR. Bukhari)
Beliau berjalan melewati keluarga Yasir dalam keadaan dibelenggu dan disiksa, Beliau SAW tidak lebih hanya mengucapkan kata – kata kepada mereka,
“Bersabarlah, wahai keluarga Yasir! Bersabarlah wahai keluarga Yasir!! Karena tempat kembali kalian adalah surga.”



Komentar»
No comments yet — be the first.